Menu Tutup

Ashoka Siahaan: Kearifan Lokal Sebagai Penguatan Kaum Marjinal

PURWOKERTO, InfoA1.id – Lembaga Advokasi Kearifan Lokal (LAKL) menyelenggarakan seminar “Kearifan Lokal Sebagai Penguatan (Empowerment) Kaum Marjinal” pada tanggal 15 November 2018. acara tersebut diselenggarakan atas kerjasama antara LAKL dan Dirjen Ormas, Ditjen Polpum, Kemendagri RI bertempat di gedung Yustisia Fakultas Hukum Universitas Wijayakusuma (UNWIKU) Purwokerto dan dihadiri oleh peserta dari berbagai komunitas budaya, kelompok seniman, akademisi Sosial Budaya, karangtaruna desa di purwokerto, pegiat lingkungan hidup, UMKM, mahasiswa dan lainya.

Kearifan lokal dan kaum marjinal memiliki hubungan erat di dalam sistem sosiologis dan kebudayaan. Kaum marjinal yang identik dengan orang miskin menjadi problem kebangsaan yang butuh penangan serius oleh pihak-pihak yang terkait. Kaum marjinal yang banyak hidup dan mendiami wilayah pedesaan sebenarnya dapat menjadikan kearifan lokal sebagai alat perjuangan dan tata nilai kehidupan menuju kesejahteraan melalui pemberdayaan dan upaya-upaya kreatifitas. Selain itu melalui kearifan lokal kaum marjinal yang terpinggirkan secara sosio-budaya dapat memberikan counter terhadap globalisasi dan modernitas yang kebablasan.

Tema besar yang diangkat dalam seminar ini hendak memberikan pencerahan melalui pendekatan filosofis dan hukum berkaitan dengan nilai-nilai kearifan lokal yang lekat dengan kaum marjinal di pedesaan. Sebelumnya Ashoka Siahaan menyampaikan dalam ceramahnya bahwa kaum marjinal desa lebih berat tantangan serta hidup dalam sistem yang subsisten ketimbang masyarakat marjinal kota. Sehingga ia menekankan bahwa kaum marjinal di desa yang sangat butuh empowerment.

Dr. Elly Kristianti, pembicara dan dosen dari UNWIKU yang mengulas sisi kearifan lokal dari kacamata hukum lingkungan. Dimana dalam beberapa penelitiannya, ia menemukan kekuatan kearifan lokal ketika berhadapan dengan hukum. “Nilai kearifan lokal dan adat budaya mampu memberikan counter terhadap perusakan lingkungan dan tindakan pencemaran maupun eksploitasi, terutama mereka yang berada dalam lingkungan masyarakat adat”.

Ia kembali menegaskan bahwa kearifan lokal menjadi salah satu instrumen dalam hukum meski banyak hal dari kearifan lokal belum sepenuhnya mewujud menjadi hukum tertulis di negri ini. Senada dengan itu Ashoka menyatakan bahwa kearifan lokal adalah code of conduct, yang dapat dijadikan tata nilai menuju penguatan dan memberdayakan kaum marjinal sehingga tidak hanya berhenti pada bacis need saja melainkan sampai pada puncak kebutuhan aktualisasi diri sebagaimana yang dibandingkan pembicara dengan teori Abraham Maslow

Ada dua substansi penting kearifan lokal guna menjembatani persoalan diskriminasi dan mengatasi permasalahan sosial yakni keadilan (sosial) dan kesejahteraan (umum) yang menjadi filosofi bangsa yang tercantum dalam Pembikaan UUD 1945. Selain itu, penguatan kaum marjinal hanya bisa dilakukan dengan kemahiran dan kedisiplinan berorganisasi dalam segala aspek termasuk dalam pengembangan ketrampilan dan kinerja. Penguatan kaum marjinal dengan kearifan lokal diharapkan mampu memberikan nilai-nilai etis dan ideologis Pancasila agar setelah kuat dan berdaya kaum marjinal yang tertindas tidak akan menjadi penindas baru dan konsumtif, papar Ashoka. (SR)

sumber :http://infoa1.id/index.php/2018/11/22/ashoka-siahaan-kearifan-lokal-sebagai-penguatan-kaum-marjinal/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *